Saya Memilih Ngeblog Lagi
Ada sesuatu yang terasa hilang. Sesuatu yang dulu begitu asyik dan membuat saya merasa terus terasah. Perlahan, saya menyadari kelenturan dalam menulis mulai berkurang, seiring dengan menurunnya nafsu baca.
Meski hingga kini saya masih aktif menulis di Muslimterkini.id, gaya bahasa jurnalistik ternyata berbeda dengan gaya bertutur khas blogger yang selama ini saya nikmati. Dititik itu, rasa kehilangan mulai terasa.
Tulisan saya yang biasanya lebih indepth dan reflektif, kini cenderung berubah menjadi formal—ala reportase straight news. Bukan berarti salah, hanya saja ada rasa kurang yang sulit dijelaskan. Sebenarnya perasaan ini sudah lama ada. Namun baru belakangan saya benar-benar menyadarinya, meski belum juga diikuti dengan langkah konkret untuk mengembalikannya.
Setidaknya itu alasan kuat saya untuk ngeblog lagi
Memulai kembali aktivitas yang telah lama ditinggalkan memang membutuhkan niat yang kuat. Apalagi ketika aktivitas itu tak lagi berada di puncak popularitas, kalah pamor oleh berbagai platform baru yang terasa lebih kekinian dan instan. Ya, aktivitas itu adalah ngeblog, menjadi seorang blogger. Menulis, bercerita, dan mengulas berbagai hal melalui artikel yang ditayangkan di blog. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti kegiatan masa lampau. Meski demikian, hingga hari ini masih ada mereka yang setia melakukannya, walau jumlahnya kian sedikit.
Saya pertama kali mengenal platform Blogger pada tahun 2013. Saat itu, seorang rekan kos semasa kuliah memperkenalkan saya pada Blogger.com. Sejak perkenalan itulah saya mulai tertarik dan perlahan mendalaminya. Hingga tahun 2018, saya masih tergolong aktif ngeblog. Meski blog yang saya kelola bukan berjenis personal branding, di kalangan komunitas blogger saya cukup dikenal sebagai pengelola beberapa situs blog yang saya operasionalkan secara konsisten.
Dulu, yang saya kejar adalah AdSense dan berbagai job blogger. Saya masih ingat betul betapa “renyahnya” penghasilan dari Google AdSense, juga serunya berkeliling Indonesia tanpa biaya untuk menghadiri undangan review. Saat itu, istilah influencer bahkan belum populer. Brand dan perusahaan besar masih rutin menggandeng para blogger untuk mengulas produk dan layanan mereka. Di kalangan blogger, job backlink menjadi salah satu job paling menghasilkan kala itu. Dulu satu kali job backlink bisa dibayar hingga 2 juta rupiah. Angka yang fantastis kala itu. Bahkan saya pernah dibayar 1,5 juta per hari hanya untuk duduk diam menghadiri sebuah acara lalu mempostingnya di blog.
Memasuki tahun 2019, saya mulai menyadari bahwa aktivitas ngeblog perlahan meredup. Pamornya kalah oleh para konten kreator di media sosial. Undangan dari brand untuk blogger mendadak sepi. Saya melihat banyak rekan sesama blogger beralih arah, ada yang menjadi konten kreator, membangun media online, bahkan membanting setir mendirikan agensi digital. Di tahun yang sama, saya pun memilih fokus bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan di Jakarta, sekaligus terlibat dalam pengelolaan media online dan aplikasi.
Namun kala itu, ada lebih dari tiga domain yang sebenarnya masih saya biarkan hidup, meski tanpa perawatan. Blog-blog tersebut berubah menjadi semacam zombie: tidak lagi rutin diperbarui, tetapi tetap memiliki pembaca. Bahkan, AdSense yang terpasang masih setia menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Hingga tahun 2026 ini, tersisa dua blog “zombie” yang masih bisa diakses dan tetap saya tempelkan AdSense. Setidaknya, penghasilan dari sana cukup untuk menutup biaya sewa domain dan hosting blog “zombie tersebut”. Satu blog berisi informasi seputar Kota Palembang yang cukup lengkap, sementara satu lainnya memuat kisah-kisah inspiratif. Keduanya memang tak lagi diperbarui, namun beruntungnya trafik masih bertahan dan monetisasi pun terus berjalan.
Alasan yang semakin menguatkan
Alasan saya untuk kembali ngeblog tentu bukan satu dua hal. Menguatkan mental, memulai lagi dari nol, membeli domain, mengatur template blog, hingga menyusun rencana konten. Semuanya bukan perkara mudah. Ada proses panjang yang menuntut satu hal utama: niat yang benar-benar kuat.
Dari sekian banyak alasan itu, ada satu yang paling mengikat dan terasa jujur: hobi. Ya, sesederhana itu. Hobi.
Menulis dengan gaya bahasa sendiri, membagikan cerita, mengurai informasi secara lebih detail, sekaligus menyampaikan sudut pandang pribadi adalah hal yang menyenangkan. Disanalah saya mencoba merajut kembali kesenangan yang dulu sempat hilang.Setiap tulisan memaksa saya untuk membaca lebih banyak, mengolah informasi, lalu merangkainya menjadi sudut pandang yang utuh. Proses ini bukan soal terlihat produktif, tapi tentang menjaga agar cara berpikir saya tetap hidup dan tidak tumpul.
Blog juga menjadi arsip pemikiran pribadi. Tulisan-tulisan itu menyimpan jejak proses berpikir saya dari waktu ke waktu. Tak hanya itu, berbeda dengan platform lain, blog memberi saya kebebasan penuh. Ini rumah saya sendiri. Saya bebas menulis sepanjang apa pun, dengan gaya apa pun, tanpa harus menyesuaikan diri dengan algoritma atau tren sesaat. .
Di saat yang sama, menulis di blog sering kali menjadi terapi yang paling sederhana. Ada banyak hal yang tidak selalu bisa saya ucapkan secara langsung, tapi bisa saya tuliskan dengan lebih jujur dan tenang. Dari sana, kepala terasa lebih ringan, dan pikiran kembali tertata.
Sederet alasan itu, membuat saya menulis ini semua dan membuat anda membacanya.

Komentar
Posting Komentar